Hal Tak Terduga Dibalik Obesitas

hal-tak-terduga-dibalik-obesitas
WHO mendefinisikan kegemukan dan obesitas sebagai penumpukan lemak yang tidak normal atau berlebihan yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.

Berat badan adalah hal yang sangat fluktuatif, kadang bisa naik, kadang juga bisa turun. Tidak sedikit orang yang mengalami kesulitan dalam mempertahankan berat badan idealnya.

Faktanya, baik itu kurus maupun gemuk atau obesitas dapat berdampak buruk pada kesehatan Anda secara keseluruhan. Ini bukan sekadar indah atau tidaknya bentuk badan yang Anda miliki, melainkan soal sehat atau tidaknya tubuh Anda.

Sekalipun Anda memiliki beran badan yang normal, tidak berarti Anda selalu sehat. Hanya saja, risiko Anda terkena penyakit lebih rendah daripada orang-orang yang badannya kurus apalagi gemuk atau obesitas.

Anda dikatakan memiliki berat badan berlebih apabila Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas 25, dan obesitas apabila nilainya lebih dari 30 kg/m2.

Kyle Harris berbagi kisahnya

Kyle Harris, seorang anggota OAC Community yang tinggal di Texas berbagi kisah obesitasnya dalam laman resmi OAC. Selama bertahun-tahun, Kyle berjuang dengan berat badannya, karena secara perlahan timbangannya naik hingga lebih dari 400 pon atau lebih dari 180 kg.

Kyle mengalami beberapa kondisi terkait obesitas, seperti sleep apnea, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe 2. Selain itu, Kyle juga sulit membungkuk untuk sekadar mengikat tali sepatu sendiri tanpa mengalami pusing atau kehabisan napas. Bahkan, untuk menikmati aktivitas di luar ruangan, Kyle cepat merasa kepanasan.

Perempuan asal Texas ini juga mengakui bahwa dirinya memberikan kelonggaran untuk kegemukannya. Misalnya, mencari tempat parkir yang terdekat dengan pintu masuk, sehingga tidak perlu berjalan jauh, atau selalu makan di restoran.

Meski makan dalam jumlah kecil, tetapi Kyle membawa sisanya untuk dimakan segera setelah ia kembali ke rumah. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan Kyle melakukan perjalanan hampir setiap minggu, membuatnya memperhitungkan waktu ekstra untuk menuju bandara, berusaha keras menemukan mobil yang sesuai dengan ukurannya, dan minta kamar hotel yang lebih dekat ke lift.

Kyle juga melihat orang-orang di pesawat menatapnya, entah itu senang karena tidak duduk di sampingnya atau kesal karena duduk di sampingnya.

Hingga akhirnya, hal-hal tidak menyenangkan yang dialaminya karena obesitas mengantarkannya untuk melakukan operasi bariatrik. Ini adalah prosedur operasi untuk menurunkan berat badan yang tidak ampuh lagi jika hanya dengan diet dan olahraga.

Melihat kisah yang dialami Kyle Harris, tentu Anda tidak ingin mengalami hal yang sama hingga berakhir dengan melakukan operasi penurunan berat badan, karena tidak ampuh lagi dengan diet dan olahraga.

Oleh sebab itu, kegemukan atau obesitas tidak boleh disepelekan, karena sangat berdampak fatal terhadap kesehatan Anda secara keseluruhan.

Faktor penyebab obesitas

Penyebab utama obesitas adalah makan lebih banyak kalori daripada yang Anda bakar dalam bentuk aktivitas sehari-hari dan olahraga. Sayangnya, obesitas tidak selalu hanya tentang kalori masuk dan kalori keluar, atau gaya hidup yang tidak aktif (sedentary lifestyle).

Ada beberapa faktor penyebab spesifik dari obesitas yang bahkan tidak dapat Anda kendalikan, yaitu:

  • Genetik, yang dapat memengaruhi cara tubuh memproses makanan menjadi energi dan cara penyimpanan lemak.
  • Bertambah tua, yang dapat menyebabkan berkurangnya massa otot dan laju metabolisme tubuh lebih lambat, sehingga lebih mudah untuk menambah berat badan.
  • Kurang tidur, yang dapat menyebabkan perubahan hormonal, sehingga Anda mudah merasa lapar dan ingin makan makanan berkalori tinggi tertentu.
  • Kehamilan, karena berat badan yang bertambah selama kehamilan mungkin sulit untuk diturunkan, pada akhirnya dapat menyebabkan obesitas.
  • Kondisi kesehatan tertentu, termasuk:
    • Sindrom ovarium polikistik (PCOS), yaitu kondisi yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon reproduksi wanita.
    • Hipotiroidisme (tiroid rendah atau kurang aktif), yaitu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon penting tertentu untuk proses metabolisme tubuh.
    • Sindrom Prader-Willi, yaitu kondisi langka bawaan sejak lahir yang menyebabkan rasa lapar berlebihan.
    • Sindrom Cushing, yaitu kondisi yang disebabkan oleh tingginya kadar hormon kortisol (hormon stres).
    • Osteoartritis (OA) dan kondisi lainnya yang menyebabkan nyeri, sehingga mengakibatkan Anda kurang beraktivitas.

Faktor risiko obesitas

Seseorang lebih berisiko mengalami obesitas apabila berada dalam kondisi seperti berikut:

1. Genetika

Faktor gen kerap kali membuat orang sulit untuk menurunkan berat badan. Terlebih lagi, ini merupakan faktor yang sulit untuk diubah atau dikendalikan.

2. Lingkungan dan komunitas

Lingkungan seperti di rumah, di sekolah, dan di komunitas, semuanya dapat memengaruhi bagaimana dan apa yang Anda makan, serta seberapa aktifnya Anda. Anda mungkin berisiko lebih tinggi mengalami obesitas jika:

  • Tinggal di lingkungan dengan pilihan makanan sehatnya terbatas atau banyak pilihan makanan berkalori tinggi, seperti restoran cepat saji.
  • Belum belajar memasak makanan yang sehat.
  • Tidak mampu membeli makanan yang lebih sehat.
  • Belum menemukan tempat yang baik untuk bermain, berjalan, atau berolahraga di lingkungan Anda tinggal.

3. Faktor psikologis dan lainnya

Depresi juga dapat menyebabkan penambahan berat badan, karena Anda mungkin beralih ke makanan untuk memberikan kenyamanan emosional. Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti antidepresan, steroid, atau pil KB, juga dapat meningkatkan risiko obesitas.

Komplikasi serius dibalik kelebihan berat badan

Mayo Clinic mengungkapkan bahwa orang dengan obesitas cenderung mengembangkan sejumlah masalah kesehatan yang berpotensi serius, termasuk:

  • Penyakit jantung dan stroke. Obesitas dapat membuat Anda mengalami tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol abnormal, di mana ini adalah faktor risiko penyakit jantung dan stroke.
  • Diabetes tipe 2. Obesitas dapat memengaruhi cara tubuh menggunakan insulin untuk mengontrol kadar gula darah, di mana ini bisa meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes.
  • Kanker tertentu, seperti kanker rahim, serviks, ovarium, payudara, usus besar, rektum, kerongkongan, hati, kandung empedu, pankreas, ginjal, dan prostat.
  • Gangguan pencernaan, termasuk mulas, penyakit kandung empedu, dan masalah hati.
  • Masalah ginekologis dan seksual, seperti kemandulan, menstruasi tidak teratur pada wanita, serta disfungsi ereksi pada pria.
  • Sleep apnea, yaitu gangguan berpotensi serius di mana pernapasan berulang kali berhenti dan dimulai ketika tidur.
  • Osteoartritis, yang dimulai dengan peningkatan peradangan dan tekanan pada bagian sendi untuk menahan beban.
  • Gejala COVID-19 yang parah, sehingga memerlukan perawatan di unit perawatan intensif, bahkan bantuan mekanis untuk bernapas.

Cegah obesitas sebelum terlambat!

Ternyata, banyak hal buruk yang dapat terjadi saat tubuh Anda mengalami obesitas. Namun, Anda tidak perlu panik, karena obesitas adalah kondisi yang masih dapat dicegah dan dirawat sebaik mungkin.

Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah kenaikan berat badan yang tidak sehat dan masalah kesehatan yang terkait dengan obesitas, dengan cara:

  • Berolahraga secara teratur dengan intensitas sedang selama 150 – 300 menit dalam seminggu, contohnya jalan cepat dan berenang.
  • Pola makan sehat yang berfokus pada makanan rendah kalori dan padat nutrisi, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian. Batasi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh, permen, dan alkohol. Terapkan pola makan tiga kali sehari dengan membatasi ngemil. Anda tetap bisa menikmati makanan tinggi kalori dan lemak dalam jumlah kecil sebagai camilan. Bila perlu, Anda juga dapat menambahkan asupan suplemen nutrisi dari jamur Reishi yang dapat membantu mencegah obesitas.
  • Ketahui dan hindari jebakan makanan yang menyebabkan Anda ingin makan terus. Misalnya, dengan membuat jurnal makan yang dapat membantu Anda menyusun strategi untuk mengontrol perilaku makan.
  • Pantau berat badan secara teratur, setidaknya sekali seminggu.
  • Konsisten dalam menerapkan pola makan dan gaya hidup sehat.

Reishi dan peranannya untuk melindungi Anda dari obesitas

Studi yang terbit dalam jurnal Molecules tahun 2018 menjelaskan bahwa jamur obat, termasuk Reishi/Lingzhi, berpotensi memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.

Oleh sebab itu, konsumsi jamur obat dapat melindungi Anda dari hipertensi dan dislipidemia terkait obesitas. Bahkan, konsumsi secara teratur efektif dapat membantu pengobatan sindrom metabolik, termasuk obesitas.

Lebih lanjut, jamur Reishi atau Ganoderma lucidum dapat membantu menurunkan kelebihan berat badan dengan cara memodulasi mikrobiota di usus. Oleh karena itu, jamur ini bisa menjadi prebiotik baru untuk mengendalikan obesitas.

Chang dan timnya juga membuktikan bahwa jamur Reishi/Lingzhi dapat membantu mengatur disbiosis dan menambah efek antiobesitas. Hal ini diduga berasal dari senyawa polisakarida di dalamnya yang dapat mengatur komposisi bakteri baik dan jahat di usus.

Selain itu, jamur obat ini juga mampu menjaga keseimbangan glukosa dan mengurangi resistensi insulin yang terkait dengan diabetes dan obesitas.

Akhirnya, Reishi mampu membantu Anda terhindar dari risiko obesitas dengan cara menjaga keseimbangan mikrobiota di usus, serta kadar glukosa dan kolesterol tetap stabil.

Cover photo by user18526052 – www.freepik.com

Baca Juga:
Penyebab Perut Buncit dan Cara Mengatasinya
Ketahui Cara Mengatasi Kelebihan Lemak dengan jamur Lingzhi (Reishi)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email