Mengenal Sindrom Metabolik, Sekumpulan Gejala Penyakit yang Terjadi Bersamaan

sindrom-metabolik-apakah-sebenarnya-ini
Sindrom metabolik adalah sekumpulan gejala/kondisi yang terjadi secara bersamaan. Apa sebenarnya penyakit ini? Bagaimana cara mengatasinya?

Tahukah Anda? Ada suatu penyakit yang merupakan sekumpulan dari beberapa “penyakit” tertentu. Penyakit ini disebut dengan sindrom metabolik, yaitu sekumpulan kondisi yang terjadi secara bersamaan, di antaranya peningkatan tekanan darah, gula darah, lemak tubuh di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol atau trigliserida. Menurut The American Heart Association (AHA), seseorang dikatakan mengidap sindrom metabolik apabila memiliki tiga atau lebih dari gejala berikut:

  • Obesitas perut: lingkar pinggang lebih dari 40 inci pada pria, dan lebih dari 35 inci pada wanita.
  • Kadar trigliserida tinggi: lebih dari sama dengan 150 mg / dL.
  • Kadar kolesterol-HDL rendah: kurang dari 40 mg / dL pada pria atau kurang dari 50 mg / dL pada wanita.
  • Tekanan darah tinggi: lebih dari sama dengan 130 / 85 mmHg.
  • Glukosa puasa tinggi: lebih dari sama dengan 100 mg / dL.

Jadi, jika Anda hanya memiliki satu dari kondisi ini, bukan berarti Anda mengidap sindrom metabolik. Hanya saja, Anda berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit yang lebih serius, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Seberapa umumkah kasus sindrom metabolik?

Studi oleh Lasmadasari et al. (2016) dalam jurnal MKMI menjelaskan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada usia 20 tahun ke atas adalah sebesar 24%, pada usia 50 tahun ke atas adalah 30%, dan pada umur 60 tahun ke atas sebesar 40%. Sementara itu, prevalensinya di Asia lebih rendah, yaitu sebesar 5 – 16%. Adapun prevalensi kasus ini di 5 wilayah yang ada di Jakarta sebesar 28,4% dan tidak ada perbedaan yang signifikan dari prevalensi antara kelompok pria dan wanita.

Studi prevalensi tersebut juga mengungkapkan bahwa sekitar 20 – 25% penduduk dewasa di dunia diperkirakan akan mengalami sindrom metabolik. Bahkan, berisiko dua kali lipat mengakibatkan kematian dan tiga kali lipat terserang penyakit jantung atau stroke daripada orang-orang tanpa gangguan ini. Selain itu, orang dengan sindrom metabolik lima kali lipat berisiko mengembangkan diabetes tipe 2. Jadi, masalah kesehatan ini tidak boleh disepelekan. Anda harus cegah dan atasi semaksimal mungkin sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih parah.

Penyebab yang mendasarinya

obesitas-salah-satu-kontributor-utama-sindrom-metabolik
Obesitas, salah satu kontributor utama sindrom metabolik | Photo by Racool_studio – www.freepik.com

Mayo Clinic menjelaskan tentang beberapa penyebab yang mungkin berkaitan erat dengan penyakit sindrom metabolik. Umumnya, gangguan ini dipicu oleh kelebihan berat badan (overweight) atau obesitas, sedentary lifestyle (gaya hidup tidak aktif), dan resistensi insulin.

Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pankreas untuk membantu gula memasuki sel-sel tubuh Anda agar digunakan sebagai bahan bakar atau energi. Jika Anda mengalam resistensi insulin, maka sel tubuh Anda tidak merespons hormon insulin secara normal, sehingga glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel dengan mudah. Akibatnya, kadar gula dalam darah Anda meningkat, meskipun tubuh Anda telah mengeluarkan lebih banyak insulin untuk mencoba menurunkannya.

Faktor risiko sindrom metabolik

Kelompok orang tertentu bisa lebih berisiko mengalami sindrom metabolik, yaitu:

  • Usia, seiring bertambahnya usia, maka risiko terkena penyakit ini juga ikut meningkat.
  • Etnis, tampaknya orang Hispanik di Amerika Serikat, terutama wanitanya, berisiko tinggi mengembangkan kondisi ini.
  • Kegemukan, terutama di bagian perut.
  • Diabetes, termasuk menderita diabetes selama kehamilan (diabetes gestasional) atau memiliki riwayat keluarga diabetes tipe 2.
  • Memiliki riwayat penyakit lainnya, seperti penyakit perlemakan hati non-alkohol, sindrom ovarium polikistik (PCOS), atau apnea tidur.

Komplikasi

Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko Anda terserang:

1. Diabetes tipe 2.

Terlebih lagi, jika Anda tidak melakukan perubahan gaya hidup untuk mengontrol kelebihan berat badan, maka Anda dapat mengalami resistensi insulin. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, resistensi insulin dapat menyebabkan kadar gula darah Anda meningkat, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit diabetes tipe 2.

2. Penyakit jantung dan pembuluh darah.

Kadar kolesterol dan tekanan darah yang tinggi dapat berkontribusi pada penumpukan “plak” di arteri Anda. Kondisi ini menyebabkan aterosklerosis, yang mana plak tersebut mempersempit dan mengeraskan pembuluh darah arteri Anda. Alhasil, sirkulasi darah di dalam tubuh Anda menjadi terganggu. Komplikasi dari aterosklerosis pada akhirnya dapat menyebabkan serangan jantung, penyakit jantung koroner, hingga stroke.

Beberapa komplikasi lainnya yang mungkin timbul dari sindrom metabolik adalah:

  • Gangguan ginjal.
  • Penyakit perlemakan hati non-alkohol.
  • Penyakit arteri perifer.
  • Komplikasi dari penyakit diabetes yang semakin berkembang, termasuk:
    • Kerusakan mata (retinopati).
    • Kerusakan saraf (neuropati).
    • Penyakit ginjal.
    • Amputasi anggota badan.

Bagaimana cara mencegah dan mengatasi sindrom metabolik?

Olahraga secara rutin untuk mencegah sindrom metabolik | Photo by shurkin_son – www.freepik.com

Kini, Anda telah memahami bahwa sindrom metabolik dapat terjadi karena gaya hidup yang tidak aktif dan berat badan berlebih. Oleh sebab itu, beberapa cara untuk mengurangi risiko penyakit terkait kondisi Anda saat ini adalah:

  • Melakukan olahraga secara rutin, di antaranya latihan aerobik (seperti jalan cepat) selama 30 menit setiap hari atau 150 menit setiap minggu. Olahraga dapat mengurangi risiko penyakit jantung, bahkan tanpa disertai penurunan berat badan. Setiap kali Anda meningkatkan aktivitas fisik akan selalu bermanfaat, meskipun mungkin Anda tidak bisa berolahraga selama 150 menit per minggu.
  • Perubahan pola makan, seperti:
    • Perbanyak asupan sumber karbohidrat kompleks dan serat, seperti biji-bijian, roti gandum, nasi merah, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayur-sayuran.
    • Mengurangi asupan daging merah dan perbanyak asupan daging putih, seperti ikan dan daging ayam.
    • Pilih makanan dengan lemak sehat, seperti minyak canola dan zaitun, dan batasi makanan tinggi lemak jahat.
  • Melakukan gaya hidup sehat dengan menjauhi alkohol dan merokok.
  • Rutin mengonsumsi suplemen makanan dari ekstrak jamur Reishi. Kemampuan jamur Reishi telah diakui secara ilmiah dapat mengatasi berbagai kondisi terkait sindrom metabolik, yaitu:
    • Membantu mengendalikan tekanan darah (Sargowo et al. (2016).
    • Mencegah gangguan metabolisme terkait obesitas, seperti mengurangi kelebihan berat badan, peradangan, dan resistensi insulin (Chang et al. 2015).
    • Bertindak sebagai hipokolesterolemia, yaitu menurunkan kadar kolesterol-LDL dan meningkatkan kolesterol-HDL (Rahman et al. 2018).
    • Efek antihiperglikemik dan sensitivitas insulin, sehingga mampu mengelola diabetes (Sarker 2015).

Ingatlah bahwa cara-cara di atas sebaiknya dilakukan setelah Anda berkonsultasi dengan ahli kesehatan, agar setiap langkah yang Anda jalani bisa tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda saat ini.

Cover photo by jcomp – www.freepik.com

Baca Juga:
Ketahui Cara Mengatasi Kelebihan Lemak dengan jamur Lingzhi (Reishi)
Seberapa Efektif Pengobatan Diabetes dengan Red Reishi (Jamur Lingzhi)?

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email