6 Manfaat Reishi Mushroom (Jamur Reishi/Lingzhi) yang Jarang Diketahui

6-manfaat-luar-biasa-dari-reishi-mushroom
Reishi mushroom adalah salah satu jenis jamur yang mungkin belum familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Faktanya, jamur Reishi adalah jamur oriental yang bersejarah dalam meningkatkan kesehatan dan umur panjang di Cina, Jepang, dan negara Asia lainnya.

Anda mungkin juga mendengar nama lain dari Reishi mushroom adalah jamur Lingzhi – begitulah orang Cina menyebutnya. Selain dengan sebutan Reishi, orang Jepang juga menamakan jamur ini dengan Mannentake. Sementara itu, dalam bahasa Latin disebut sebagai Ganoderma lucidum. Seperti apakah “jamur ajaib” ini? Seberapa besar manfaatnya untuk kesehatan manusia? Here’s the answers!

Reishi mushroom itu seperti apa?

FIGURE 9.1. (See color insert.
Reishi mushroom, dikenal juga dengan Lingzhi atau Mannentake mushroom | Sumber: Chapter 9, Ganoderma lucidum (Lingzhi or Reishi)

Jamur Reishi atau Lingzhi adalah jamur yang berukuran besar, berwarna gelap, memiliki tampilan luar yang mengkilap, dan bertekstur seperti kayu. Inilah mengapa jamur ini diberi nama sebagai Ganoderma lucidum, yang berasal dari kata lucidus, artinya “berkilau” atau “cemerlang” dan mengacu pada tampilan permukaan jamur (seperti kayu) yang dipernis.

Dalam bahasa Cina, pemberian nama “Lingzhi” bukan tanpa alasan, melainkan mewakili kombinasi dari kekuatan spiritual, esensi keabadian, dan dianggap sebagai “ramuan potensi spiritual”, yang melambangkan kesuksesan, kesejahteraan, kekuatan ilahi, dan umur panjang.

Dari sekian banyaknya spesies jamur yang dibudidayakan, Reishi mushroom memiliki keunikannya sendiri, karena bernilai farmasi dan kaya nutrisi. Kini, telah tersedia berbagai produk G. lucidum komersial dalam berbagai bentuk, seperti bubuk, suplemen makanan, teh, dan bahan penyusun kosmetik.

Adapun bagian jamur Lingzhi yang diproduksi adalah miselia, spora, dan tubuh buahnya. Beberapa manfaat kesehatan yang menonjol dari jamur ini meliputi antikanker, antivirus, antibakteri, antioksidan, imunostimulasi, hipoglikemik, dan hepatoprotektif. Sebagian besar manfaat kesehatan Reishi mushroom didasarkan pada bukti anekdot, penggunaan secara tradisional, dan adat istiadat budaya. Namun saat ini, telah banyak studi ilmiah yang membuktikan manfaat kesehatan dari jamur keabadian ini [1].

Kandungan gizi Reishi mushroom

Studi menjelaskan bahwa sebagian besar jamur terdiri atas sekitar 90% air menurut beratnya, sedangkan 10% sisanya terdiri atas [2]:

  • Protein.
  • Lemak.
  • Karbohidrat.
  • Serat.
  • Abu.
  • Beberapa vitamin dan mineral, terutama kalium, kalsium, fosfor, magnesium, selenium, besi, seng, dan tembaga.

Sementara itu, kandungan gizi dan senyawa bioaktif dalam Reishi mushroom secara spesifik adalah:

Kandungan zat gizi [3]

  • Abu: 1,8%.
  • Karbohidrat: 26 – 28%.
  • Lemak kasar: 3 – 5%.
  • Serat kasar: 59%.
  • Protein kasar: 7 – 8%.

Kelebihannya lagi, protein jamur mengandung semua jenis asam amino esensial dan sangat kaya akan asam amino lisin dan leusin. Selain itu, kandungan lemak totalnya rendah dan proporsi asam lemak tak jenuh gandanya relatif tinggi terhadap total asam lemak jamur yang dianggap sebagai kontributor signifikan untuk kesehatan [4].

Senyawa bioaktif [5, 6]

  • Terpenoid.
  • Steroid.
  • Fenol.
  • Nukleotida dan turunannya.
  • Glikoprotein.
  • Polisakarida.

Polisakarida, peptidoglikan, dan triterpen adalah tiga konstituen aktif fisiologis utama di dalam G. lucidum. Namun, perlu dicatat bahwa jumlah dan persentase masing-masing komponen ini bisa sangat beragam dalam produk alam maupun komersial dari jamur Reishi. Variasi tersebut dapat terjadi karena beberapa alasan, di antaranya perbedaan spesies atau galur jamur yang digunakan dan cara produksinya [7].

6 Manfaat Reishi mushroom untuk kesehatan yang jarang diketahui

Kehadiran zat gizi dan senyawa bioaktif tersebut membuat Ganoderma lucidum dapat memberikan sejumlah manfaat untuk kesehatan Anda, mencakup:

1. Terapi pengobatan kanker

Salah satu manfaat Reishi mushroom yang sangat terkenal adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh, terutama pada pasien kanker bersama dengan terapi konvensionalnya [8]. Beranjak dari inilah, berbagai studi ilmiah tentang G. lucidum terkait sifat antikankernya semakin berkembang. Seperti yang Anda ketahui, kanker adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia, karena obat untuk penyembuhan kanker masih belum ada. Pengobatan dan perawatan dilakukan untuk memperlambat perkembangan sel-sel kanker dan meningkatkan peluang hidup penderitanya.

Dua kelompok senyawa bioaktif utama di dalam jamur Reishi – polisakarida dan triterpen – telah terbukti menunjukkan efek antikanker, chemopreventive (mencegah pertumbuhan sel kanker), dan tumoricidal (membunuh sel tumor) melalui percobaan in vitro dan in vivo pada hewan dan manusia [9, 10]. Percobaan G. lucidum pada hewan yang ditanamkan tumor juga telah menunjukkan efek penghambatan pada angiogenesis dan metastasis [11]. Hanya saja, bukti percobaannya pada manusia yang dirancang dengan baik masih terbatas. Meski begitu, manfaat jamur Reishi ini tidak boleh disepelekan dan layak dipertimbangkan sebagai terapi pengobatan kanker disamping terapi konvensionalnya.

2. Meningkatkan imunitas

Sudah banyak bukti yang mendukung aktivitas imunostimulasi (merangsang sel-sel imun tubuh) pada G. lucidum. Komponen bioaktif dari jamur ajaib ini telah terbukti mampu meningkatkan proliferasi dan pematangan sel limfosit T dan B, sel mononuklear limpa, sel NK, dan sel dendritik secara in vitro dan in vivo [12, 13, 14, 15]. Ini adalah sel-sel tubuh yang terlibat dalam sistem imunitas Anda.

Walaupun dalam sebuah penelitian ada yang menunjukkan bahwa ekstrak G. lucidum komersial tidak merangsang proliferasi limfosit, tetapi mampu mengaktifkan ekspresi gen IL-1β, IL-6, IL-10, dan tumor necrosis factor (TNF) -α [16]. Hal ini dibuktikan juga oleh Chen dan timnya bahwa fraksi polisakarida (F3) dari G. lucidum terbukti meningkatkan imunitas adaptif dan bawaan dengan memicu produksi sitokin IL-1, IL-6, IL-12, IFN-γ, TNF-α, dan faktor perangsang koloni (CSF) dari tikus percobaan [17]. Bahkan, senyawa polisakarida ini juga mampu menekan proliferasi sel tumor secara in vivo sekaligus meningkatkan respons imun inang [18].

cara-kerja-reishi-muhsroom-dalam-sistem-kekebalan-tubuh
Cara kerja Reishi mushroom dalam sistem kekebalan tubuh

3. Bertindak sebagai antioksidan

Antioksidan adalah senyawa yang “menyumbangkan” elektronnya kepada radikal bebas, sehingga radikal bebas di dalam tubuh tidak mampu lagi menyerang sel-sel sehat Anda. Radikal bebas sendiri merupakan senyawa tidak stabil, karena kehilangan satu elektronnya. Jika antioksidan di dalam tubuh Anda tidak mencukupi, maka radikal bebas bisa mengambil elektron untuk menstabilkan dirinya dari sel-sel sehat Anda. Inilah mengapa radikal bebas berbahaya, karena merusak sel-sel sehat Anda. Dampak buruknya bisa berujung dengan kanker dan penyakit kronis lainnya.

Reishi mushroom adalah salah satu makanan yang kaya antioksidan. Berbagai komponen aktif di dalamnya, terutama polisakarida dan triterpenoid, menunjukkan aktivitas antioksidan secara in vitro [19, 20, 21]. Mengejutkannya lagi, senyawa antioksidan dari jamur Lingzhi ditemukan diserap dengan cepat setelah dikonsumsi, sehingga cepat meningkatkan aktivitas antioksidan total dalam plasma manusia [22].

Adanya senyawa antioksidan yang kaya dalam jamur ini, membuatnya mampu melindungi sel kekebalan dari kerusakan oksidatif, mencegah kerusakan ginjal, serta meningkatkan antioksidan (enzim dan non-enzim) dan menurunkan tingkat peroksidasi lipid pada penderita diabetes [23, 24, 25].

4. Memiliki efek antivirus dan antibakteri

Adanya efek samping yang tidak diinginkan dari obat antibiotik dan antivirus, serta munculnya strain mutan dan resisten, mendorong para ahli untuk meneliti aktivitas antibakteri dan antivirus dari tanaman obat dan jamur, salah satunya Reishi mushroom. Jamur ini terbukti menunjukkan efek penghambatan pada virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1), virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2), dan virus stomatitis vesikuler [26, 27]. Senyawa bioaktif triterpen dari G. lucidum juga telah dilaporkan memiliki efek penghambatan terhadap aktivitas protease human immunodeficiency virus (HIV). Namun, tidak semua triterpen yang diteliti menunjukkan aktivitas anti-HIV [28, 29]. Dalam penelitian lain, asam ganoderic dari G. lucidum menunjukkan efek penghambatan pada replikasi virus hepatitis B (HBV) [30].

Sementara itu, dalam studi in vitro tahun 2008, ekstrak kloroform G. lucidum memiliki efek penghambatan pertumbuhan pada dua bakteri gram positif, yaitu S. aureus dan B. subtilis [31]. Dalam studi in vitro lainnya, G. lucidum ditemukan lebih efektif daripada antibiotik dalam melawan bakteri E. coli, Micrococcus luteus, S. aureus, B. cereus, Proteus vulgaris, dan Salmonella typhi. Namun, kurang efektif terhadap spesies lainnya yang juga diuji dalam studi tersebut [32].

Sampai saat ini, komponen antimikroba apa dari ekstrak jamur Reishi masih belum diidentifikasi. Meski begitu, ada dugaan polisakarida dan terpene yang bertindak sebagai antimikroba [33, 34]. Hal ini tidak menutup potensi Reishi mushroom sebagai terapi pendamping yang efektif. Para ahli pun sepakat terapi kombinasi mungkin akan lebih aman dan hemat biaya, karena penggunaan obat antivirus dan antibakteri akan lebih rendah dengan penurunan risiko efek samping secara bersamaan. Tentunya, hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut baik itu secara in vitro dan in vivo yang dirancang dengan baik.

5. Diabetes mellitus

Diabetes mellitus adalah kondisi di mana kadar gula darah tinggi di dalam tubuh. Ini bisa disebabkan karena sel pankreas penghasil hormon insulin mengalami kerusakan atau hormon insulin menjadi resisten. Seperti yang diketahui, insulin adalah hormon yang bertindak mengubah glukosa menjadi glikogen yang disimpan sebagai cadangan energi. Rusak atau berkurangnya hormon insulin inilah yang menjadi cikal bakal seseorang mengalami diabetes.

Manfaat Reishi mushroom lainnya yang jarang orang tahu adalah dapat menurunkan kadar glukosa, karena terbukti memiliki efek hipoglikemik pada hewan percobaan [35, 36]. Dalam studi yang lebih baru, pemberian oral ekstrak G. lucidum selama 4 minggu menunjukkan penurunan kadar glukosa serum pada tikus obesitas atau diabetes. Bahkan, efeknya ini sudah terlihat setelah minggu pertama pengobatan [37]. Penelitian Jia et al. (2009) menunjukkan bahwa ekstrak G. lucidum yang kaya polisakarida mampu meningkatkan kadar insulin serum dan menurunkan kadar glukosa. Selain itu, ekstrak jamur ini juga meningkatkan kadar antioksidan (enzim dan non-enzim) dan menurunkan kadar peroksidasi lipid. Oleh karena itu, selain efek hipoglikemiknya, pengobatan dengan G. lucidum juga membantu menurunkan stres oksidatif [25].

Berbagai penelitian yang ada menunjukkan bahwa asupan G. lucidum dapat membantu mengatur kadar glukosa darah. Hanya saja, masih diperlukan dukungan dari studi klinis pada manusia yang dirancang dengan baik, dengan dan tanpa kombinasi obat-obatan konvensional.

6. Cedera hati dan lambung

Terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya adalah Reishi mushroom juga memiliki efek hepatoprotektif yang kuat yang berasal dari senyawa ganoderenic acid A di dalamnya [38]. Pada kasus cedera hati, pemberian jamur Reishi mampu mempertahankan nilai normal AST, ALT, SOD, dan GSH [39]. Ekstrak jamur ini juga memiliki aktivitas pembersihan radikal yang dikaitkan dengan peningkatan stres oksidatif dan cedera hati terkait radikal bebas [40].

Dalam studi lainnya, senyawa bioaktif polisakarida dari G. lucidum dapat memperbaiki sirosis yang disebabkan oleh ligasi bilier. Jamur ini secara signifikan menurunkan peningkatan penanda biokimia serum kerusakan hati yang disebabkan oleh ligasi (AST, ALT, ALP, dan bilirubin total) [41].

Terlepas dari efeknya pada kerusakan hati akibat bahan kimia, efek jamur Lingzhi ini ternyata juga berlaku pada cedera lambung. Studi pada tikus yang diinduksi dengan asam asetat dan diberi pengobatan dengan G. lucidum secara signifikan mempercepat penyembuhan ulkus dengan cara memulihkan kadar lendir dan prostaglandin [42].

Inilah 6 manfaat Reishi mushroom yang sudah dibuktikan secara ilmiah oleh para peneliti. Meski beberapa masih ada yang perlu studi klinis lebih lanjut, tetapi potensinya tersebut tidak seharusnya diabaikan begitu saja. Bagaimanapun juga, jamur yang dijuluki sebagai “jamur keabadian” ini telah menarik banyak perhatian di kalangan medis, terutama potensinya sebagai terapi pendamping pengobatan konvensional, seperti kanker dan diabetes mellitus.

Gambar sampul oleh phạm Lộc dari Pixabay

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email