Peradangan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengendalikannya

peradangan-penyebab-gejala-cara-mengendalikannya-review-reishi
Secara umum, ada dua jenis peradangan, yaitu peradangan akut dan kronis. Keduanya memiliki penyebab, gejala, dan tujuan yang berbeda.

Peradangan (inflamasi) adalah respons alami sistem kekebalan saat berjuang melawan partikel asing yang masuk ke tubuh. Sejumlah bahan kimia inflamasi akan dialirkan ke darah Anda untuk membantu tubuh melawan penyusup atau partikel asing, seperti virus dan bakteri.

Saat Anda terluka, respons inflamasi lokal memainkan peran penting untuk proses penyembuhan. Namun, jika peradangan berlangsung secara berlebihan, dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Simak terus artikel berikut ini untuk mengetahui lebih banyak tentang peradangan di dalam tubuh!

Apa itu peradangan (inflamasi)?

Peradangan (inflamasi) adalah bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh dan berperan dalam proses penyembuhan. Saat tubuh Anda mendeteksi adanya bahaya, sistem imunitas pun meluncurkan respons biologis untuk mencoba memberantasnya [1].

Penyerang atau penyusup ini bisa saja duri, iritasi, atau patogen seperti bakteri, virus, dan organisme lain, yang dapat menyebabkan infeksi.

Terkadang, tubuh bisa juga keliru menganggap sel atau jaringannya sendiri sebagai sesuatu yang berbahaya. Inilah yang dinamakan sebagai penyakit autoimun, seperti lupus dan diabetes mellitus tipe 1.

Para ahli meyakini bahwa peradangan dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis, seperti sindrom metabolik, yang meliputi diabetes mellitus tipe 2, penyakit jantung, dan obesitas. Orang dengan kondisi ini sering memiliki tingkat penanda inflamasi yang lebih tinggi di tubuhnya [2].

Secara umum, ada dua jenis peradangan yang terjadi di dalam tubuh, yaitu peradangan akut dan kronis. Keduanya memiliki penyebab, gejala, dan tujuan yang berbeda.

Peradangan akut

Peradangan akut biasanya disebabkan oleh cedera, luka, infeksi, atau paparan zat seperti sengatan lebah atau debu. Ketika tubuh Anda mendeteksi adanya kerusakan atau patogen, sistem kekebalan segera memicu sejumlah reaksi [3]:

  • Jaringan menumpuk protein plasma, sehingga terjadi penumpukan cairan dan mengakibatkan pembengkakan.
  • Tubuh melepaskan neutrofil – sejenis sel darah putih (leukosit) yang bergerak menuju area yang terkena – untuk membantu melawan patogen.
  • Pembesaran pembuluh darah kecil, sehingga leukosit dan protein plasma bisa lebih mudah mencapai lokasi cedera.

Tanda-tanda peradangan akut umumnya muncul dalam hitungan jam atau hari. Dalam beberapa kasus, ini juga bisa terjadi dengan cepat dan parah.

Umumnya, tanda-tanda peradangan setelah cedera, meliputi [4, 5]:

  • Kemerahan.
  • Rasa sakit, hangat, dan lembut saat disentuh.
  • Pembengkakan atau muncul benjolan.
  • Memar.
  • Kekakuan.
  • Kehilangan fungsi mobilitas.

Gejala umum dari peradangan akut akibat infeksi termasuk [6]:

  • Demam.
  • Kehausan.
  • Mual.
  • Kelelahan.
  • Mengantuk.
  • Cepat marah.
  • Pilek.
  • Sakit tenggorokan.
  • Hidung tersumbat.
  • Sakit kepala.

Proses penyembuhan peradangan akut bisa berlangsung selama beberapa hari hingga bulan, bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.

Peradangan kronis

Peradangan kronis atau jangka panjang dapat berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Ini juga sering dimulai ketika tidak ada cedera atau penyakit dan berlangsung lebih lama dari yang seharusnya.

Hingga saat ini, para ilmuwan masih belum mengetahui alasan pasti peradangan kronis bisa terjadi, karena tampaknya tidak memiliki tujuan seperti halnya akut. Namun, satu hal yang mereka yakini bahwa ini dapat menyebabkan perubahan besar pada jaringan, organ, dan sel tubuh penderitanya.

Melansir dari Medical News Today, peradangan kronis dapat berkembang jika Anda memiliki [5]:

  • Hipersensitivitas yang dapat memicu alergi.
  • Paparan tinggi terhadap bahan kimia industri.
  • Gangguan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sehat yang normal, seperti psoriasis.
  • Penyakit autoinflamasi di mana cara kerja sistem kekebalan tubuh dipengaruhi oleh faktor genetik, seperti penyakit Behçet.
  • Peradangan akut yang persisten atau tidak sepenuhnya pulih.

Faktor risiko lainnya meliputi [4, 5]:

  • Usia yang lebih tua.
  • Kegemukan.
  • Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula.
  • Kebiasaan merokok.
  • Kadar hormon seks rendah.
  • Stres.
  • Gangguan tidur.

Selain itu, peradangan kronis dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker, rheumatoid arthritis, aterosklerosis, periodontitis, depresi, fatty liver, dan lainnya. Sejauh ini, hubungan terkuat antara peradangan kronis dan penyakit telah terlihat pada diabetes tipe 2 dan penyakit jantung [7].

Peradangan kronis sering berkembang dengan tenang dan sedikit menimbulkan gejala independen. Terlepas dari itu, ini adalah ancaman besar bagi kesehatan dan umur panjang bagi kebanyakan orang.

Poin pentingnya

Medical News Today membantu Anda mengenali perbedaan pentingnya melalui tabel berikut ini [5]:

AkutKronis
PenyebabPatogen berbahaya atau cedera jaringan.Patogen tidak dapat dipecah oleh tubuh, termasuk beberapa jenis virus, benda asing yang tertinggal dalam sistem, atau respons imun yang terlalu aktif.
Terjadi secaraCepat.Lambat.
Durasi untuk sembuhBeberapa hari.Hitungan bulan bahkan tahun.
OutcomesDapat membaik, abses berkembang, atau menjadi kronis.Kematian jaringan, penebalan, dan jaringan parut pada jaringan ikat.

Untuk memastikan apakah yang Anda alami akut atau kronis, Anda perlu melakukan serangkaian pemeriksaan ke dokter, meliputi tes darah dan pencitraan.

Cara mengendalikan

Terkadang, peradangan bisa diatasi dengan cara yang sederhana, seperti mengubah pola makan dengan menghindari makanan olahan, tinggi gula, dan lemak trans. Ada pula beberapa jenis makanan yang benar-benar efektif melawan peradangan (anti-inflamasi), seperti [5, 8, 9]:

  • Buah-buahan, seperti stroberi, blueberi, ceri, dan jeruk.
  • Ikan berlemak, seperti salmon, tuna, sarden, atau mackerel.
  • Alpukat.
  • Teh hijau.
  • Jamur, seperti Reishi dan Shiitake.
  • Rempah-rempah, seperti kunyit, jahe, dan cengkeh.
  • Tomat.
  • Minyak zaitun.
  • Sayuran berdaun hijau, seperti bayam, brokoli, kangkung, dan sawi.
  • Kacang-kacangan, seperti almond dan kenari.

Langkah selanjutnya, Anda dapat membantu mengurangi peradangan dengan melakukan beberapa hal berikut [4, 5, 8, 9]:

  • Konsumsi suplemen yang direkomendasikan oleh ahli kesehatan Anda. Suplemen dari ekstrak jamur Reishi bisa menjadi salah satu solusi efektif, karena memiliki efek anti-inflamasi kuat yang berasal dari komponen aktif di dalamnya, seperti beta-glucan.
  • Menggunakan terapi panas atau dingin jika mengalami cedera fisik untuk meredakan nyeri dan mengurangi pembengkakan.
  • Berolahraga lebih sering.
  • Mengelola stres. Anda bisa mencoba 10 cara ini.
  • Berhenti merokok.
  • Mengelola kondisi kesehatan yang sedang dialami.

Anda juga bisa menggunakan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter jika peradangan yang terjadi cukup parah, seperti NSAID, aspirin, kortikosteroid, atau analgesik topikal dan krim lainnya [4, 5, 8, 9, 10].

Kesimpulan

Peradangan pada dasarnya adalah respons kekebalan tubuh yang normal terjadi untuk proses penyembuhan. Akan tetapi, Anda perlu waspada jika ini terjadi secara berlebihan atau lebih lama dari yang seharusnya. Segera konsultasikan dengan dokter atau ahli kesehatan Anda jika mengalami tanda atau gejala yang mengkhawatirkan.

Original featured image by katemangostar – www.freepik.com

Baca Juga:
7 Makanan Sehat untuk Mengatasi Kecanduan Rokok
Hal Tak Terduga Dibalik Obesitas

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email