Jamur Reishi: Agen “Prebiotik” Baru yang Patut Dipertimbangkan

potensi-jamur-reishi-sebagai-agen-prebiotik
Prebiotik dan probiotik sama-sama penting untuk kesehatan manusia, meski dengan peran yang berbeda. Nah, jamur Reishi adalah salah satu agen prebiotik yang patut dipertimbangkan, karena sudah dibuktikan secara ilmiah.

Pernahkah Anda mendengar tentang prebiotik? Kira-kira, apakah ini sama dengan probiotik? Eits, ini adalah dua hal yang berbeda, loh!

Prebiotik adalah bahan makanan untuk pertumbuhan sejumlah bakteri di usus Anda. Sementara probiotik adalah mikroorganisme hidup yang bermanfaat untuk kesehatan bila dikonsumsi atau dioleskan ke tubuh [1, 2].

Keduanya sama-sama penting untuk kesehatan Anda, meski dengan peran yang berbeda. Hingga saat ini, sudah banyak studi yang menampilkan berbagai makanan yang berperan sebagai agen prebiotik, satu di antaranya jamur Reishi/Lingzhi (Ganoderma lucidum) [3].

Seperti apa sih peran jamur obat ini di dalam usus? Yuk, cek di sini!

Prebiotik vs probiotik

Pada dasarnya, probiotik dan prebiotik adalah:

  • Probiotik: bakteri hidup yang terdapat dalam makanan atau suplemen tertentu dan bermanfaat banyak untuk kesehatan.
  • Prebiotik: zat yang berasal dari jenis karbohidrat (sebagian besar serat) yang tidak dapat dicerna oleh manusia, tetapi sangat menguntungkan bagi bakteri di usus yang memakan serat ini. Secara kolektif, bakteri usus disebut juga sebagai flora usus atau mikrobiota usus.

Jika Anda mengonsumsi probiotik dan prebiotik dalam jumlah seimbang, dapat membantu memastikan keseimbangan mikrobiota di usus dan memelihara kesehatan Anda.

Bakteri usus bermanfaat?

Jangan anggap di dalam tubuh tidak ada koloni bakteri yang menetap. Usus terutama, adalah tempat pertumbuhan koloni bakteri, ada yang menguntungkan dan ada pula yang tidak. Bakteri yang menguntungkan – atau katakanlah sebagai bakteri baik – di saluran pencernaan dapat membantu melindungi Anda dari bakteri dan jamur berbahaya.

Studi tahun 2013 tentang bakteri di usus menegaskan bahwa ada berbagai jenis bakteri baik yang dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan, memperbaiki gejala depresi, membantu mengatasi obesitas, dan masih banyak manfaat lainnya [4].

Selain itu, beberapa bakteri usus juga dapat membentuk vitamin K dan asam lemak rantai pendek. Asam lemak rantai pendek adalah sumber nutrisi utama bagi sel-sel yang melapisi usus besar Anda.

Zat gizi ini membuat penghalang usus menjadi lebih kuat, sehingga membantu mencegah serangan virus, bakteri, dan zat berbahaya, serta mengurangi peradangan dan risiko kanker [5].

Peran makanan bagi mikrobiota usus

Makanan yang Anda konsumsi sehari-hari dapat memengaruhi keseimbangan bakteri baik dan bakteri jahat di usus. Misalnya, diet tinggi gula dan tinggi lemak berdampak negatif terhadap bakteri usus yang dapat menyebabkan resistensi insulin dan kondisi lainnya [6].

Jika Anda memberi makan bakteri yang salah secara teratur, koloni bakteri jahat dapat tumbuh lebih cepat dan banyak tanpa adanya bakteri baik yang cukup untuk melawannya.

Suatu studi menunjukkan bahwa bakteri jahat usus telah dikaitkan dengan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi. Selain itu, mengonsumsi antibiotik terutama sejak anak-anak dan makanan yang diolah dengan pestisida juga dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus [7, 8, 9, 10].

Jamur Reishi, agen baru prebiotik yang layak dipertimbangkan

Dari sekian banyak makanan yang berperan sebagai prebiotik, studi baru-baru ini menemukan bahwa jamur Reishi berpotensi sebagai agen prebiotik.

Chang et al. (2015) yang meneliti efek anti-obesitas dari jamur Reishi menunjukkan bahwa ekstrak Ganoderma lucidum dapat mengurangi berat badan, peradangan, dan resistensi insulin pada tikus yang diberi diet tinggi lemak (HFD) dengan cara membalikkan disbiosis usus, menjaga kekuatan penghalang usus, dan mengurangi endotoksemia metabolik [11].

Jadi, efek anti-obesitas dari jamur Reishi ini berasal dari kemampuannya yang dapat mengembalikan keseimbangan mikrobiota usus atau sebagai prebiotik.

Cara kerja jamur Reishi (WEGL) sebagai agen prebiotik | Sumber: Delzenne dan Bindels (2015)

Delzenne dan Bindels (2015) menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang masih perlu diteliti lebih lanjut dari hasil penelitian Chang et al. (2015) ini.

Misalnya, mekanisme lain yang terlibat dari efek anti-obesitas dalam jamur Reishi. Selain itu, efek menguntungkan jamur Reishi terjadi pada bakteri yang belum diketahui jelas efeknya bagi tubuh, seperti Parabacteroides goldsteinii.

Akibatnya, ada kemungkinan jalur interaksi lain juga terlibat dalam manfaat anti-obesitas jamur ini, misalnya jalur terkait asam empedu [12].

Meski begitu, penelitian Chang dan kawan-kawan berhasil mendukung konsep prebiotik dan modulasi mikrobiota usus untuk mengatasi obesitas dan gangguan metabolisme terkait.

Efek menguntungkannya ini juga dapat berkontribusi pada keberhasilan uji klinis di masa depan untuk menyelidiki potensi anti-obesitas dari obat tradisional nabati lainnya.

Baca Juga:
Ini Cara Reishi Merawat Hepatitis, Alami dan Efektif!
Jamur Reishi, Bantu Hancurkan Lemak Visceral yang Membandel

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email