Bisakah Reishi Melawan Virus Corona (COVID-19)?

bisakah-reishi-melawan-covid-19-review-reishi
Reishi sangat baik dalam memodifikasi sistem kekebalan tubuh. Lantas, apakah Reishi bisa membantu melindungi Anda dari COVID-19?

Reishi adalah kelompok makrofungi yang telah digunakan secara luas sebagai “jamur keabadian” di Jepang, Cina, Korea, dan negara-negara Asia lainnya sejak 2000 tahun lalu. Jamur ini telah terbukti memiliki potensi terapeutik, termasuk dalam hal imunomodulasi.

Studi review menjelaskan bahwa Reishi (Ganoderma lucidum) sangat baik dalam memodifikasi sistem kekebalan tubuh dengan cara meningkatkannya ketika lemah atau menurunkannya ketika terlalu aktif [1].

Tidak heran jika Reishi dijuluki sebagai jamur keabadian, karena mengandung sekitar 400 senyawa bioaktif yang berbeda, terutama triterpenoid, polisakarida, nukleotida, sterol, steroid, asam lemak, dan protein (peptida). Selain itu, juga memiliki sejumlah efek farmakologis, termasuk imunomodulasi, antiinflamasi, antibakteri, antivirus, dan antioksidan [1].

Semua efek farmakologis tersebut sangat diperlukan oleh tubuh Anda agar mampu melawan virus corona semaksimal mungkin. Lantas, apakah Reishi bisa membantu melindungi tubuh Anda dari COVID-19? Berikut ulasannya!

Efek Reishi terhadap sistem imun dan peradangan

Sebagai imun booster

Memiliki sistem imun yang kuat, terutama pada awal infeksi, adalah hal yang penting untuk mengatasi serangan virus corona. Hal ini juga penting dalam mengurangi tingkat keparahan COVID-19.

Uji klinis yang dilakukan pada pasien kanker stadium lanjut menunjukkan bahwa senyawa karbohidrat kompleks yang diisolasi dari jamur Reishi dapat meningkatkan jumlah beberapa sel kekebalan tubuh (CD3+, CD4+, CD8+, dan CD56+) dan beberapa sitokin (IL -2, IL-6, IFN-gamma, dan sel NK), sedangkan kadar IL-1 dan TNF-alpha menurun [2, 3].

Uji klinis lainnya yang dilakukan pada pemain sepak bola pria menunjukkan bahwa jamur Reishi dapat membantu menurunkan rasio CD4+ dan CD8+ yang disebabkan oleh pelatihan. Hal ini diduga berasal dari senyawa polisakarida yang berasal dari jamur Reishi. Peneliti pun menyarankan Reishi untuk membantu para pemain melawan infeksi [4].

Mengurangi peradangan dan kerusakan oksidatif

Bila Anda terserang COVID-19, muncullah badai sitokin sebagai bentuk perlawanan tubuh Anda terhadap penyakit tersebut. Untuk mencegah peradangan berlebih, diperlukan zat antiinflamasi atau anti-peradangan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa jamur Reishi dapat mengurangi peradangan pada penyakit rematik, asma, dan mata merah tanpa menimbulkan efek samping yang signifikan. Ini karena Reishi mengandung senyawa aktif – triterpenoid dan polisakarida (beta-glucan) – yang dapat bekerja efektif sebagai antioksidan [5].

Beberapa studi juga membuktikan hal ini melalui 2 uji klinis, yaitu pada 42 orang sehat dan 71 orang dengan nyeri dada (angina) [6, 7].

Pemberian Reishi selama 14 hari dapat meningkatkan penanda anti-inflamasi atau antioksidan, serta melindungi darah dari kerusakan oksidatif pada tikus. Dalam hal ini, Reishi dapat menurunkan kadar oksidan (malondialdehid), sekaligus meningkatkan beberapa enzim antioksidan, seperti superoksida dismutase, glutathione peroksidase, dan glutathione S-transferase [8].

Bahkan, di antara jamur obat lainnya (Cephalosporium sinensis, Cordyceps mortierella, Hericium erinaceus, dan Armillaria mellea), Ganoderma lucidum yang paling maksimal menghambat produksi oksida nitrat (NO), sehingga paling efektif dalam mengurangi dan mencegah penyakit terkait peradangan [9].

Melawan infeksi

Jamur Reishi terbukti mampu melawan dan mengatasi berbagai penyakit infeksi. Berikut rinciannya:

  • Mampu membersihkan infeksi HPV (human papillomavirus) [10].
  • Meredakan nyeri akibat herpes zoster [11].
  • Mengurangi gejala herpes genitalis dan labialis [12].
  • Mengurangi gejala infeksi saluran kemih [13, 14].
  • Memiliki aktivitas antimalaria yang kuat dan membantu memperbaiki kerusakan hati yang disebabkan oleh Plasmodium akibat infeksi malaria [15].
  • Menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogen (Fusarium oxysporum, Aspergillus niger, A. flavus, Penicillium sp., dan Alternaria alternata) [16].
  • Meningkatkan efek antibakteri pada Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Bacillus cereus, dan Pseudomonas aeruginosa [17].
  • Mencegah dan mengatasi infeksi enterovirus 71 (EV71) [18].
  • Menghambat aktivasi antigen virus Epstein-Barr dalam sel [19, 20].
  • Mencegah replikasi virus hepatitis B [21].
  • Agen anti-herpetic [22].
  • Menghambat protease yang diperlukan virus HIV-1 untuk menghasilkan partikel infektif [23, 24].
  • Menghambat neuraminidase yang digunakan oleh virus penyakit Newcastle dan virus flu burung H5N1 untuk menginfeksi sel [25, 26].

Efek Reishi terhadap penyakit komorbid

Fungsi paru-paru

Paru-paru adalah organ utama yang diserang oleh virus corona, penyebab COVID-19. Bahkan, membuat penderitanya memerlukan peningkatan saturasi oksigen dan ventilator. Di sisi lain, kondisi komorbid seperti asma dapat meningkatkan kematian akibat COVID-19.

Formula herbal komersial dengan Ganoderma lucidum dan dua herbal lainnya yang digunakan dalam pengobatan Cina (Licorice Cina dan Sophora flavescens) dapat meningkatkan fungsi paru-paru melalui uji klinis pada 91 penderita asma dan pada tikus [27, 28, 29].

Studi lainnya juga mengungkapkan bahwa senyawa aktif dalam Reishi dapat menghambat pelepasan histamin dari sel mast, sehingga efektif untuk pengobatan bronkitis kronis [30, 31, 32].

Namun, Anda harus tetap berhati-hati, karena ukurannya yang kecil dan kandungan alergennya, spora Ganoderma lucidum di udara dapat memicu alergi pernapasan jika masuk ke saluran pernapasan bagian bawah orang yang sensitif [33, 34, 35, 36].

Penyakit jantung

Penyakit jantung secara signifikan juga dapat meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19.

Risiko ini dapat ditekan seminimal mungkin dengan mengambil manfaat dari jamur Reishi. Senyawa aktif dari jamur Reishi (beta-glucan) mampu mengurangi risiko penyempitan arteri (aterosklerosis) pada 71 orang dengan nyeri dada. Ini karena beta-glucan dapat bertindak sebagai antioksidan [7].

Melalui percobaan kecil terhadap 14 orang dengan kerusakan ginjal, menunjukkan bahwa ekstrak Reishi dapat mengurangi kerusakan sel yang melapisi pembuluh darah, sehingga mengurangi risiko serangan jantung [37].

Selain itu, kandungan protein dari jamur ini mampu menurunkan tekanan darah, yang dapat bertahan hingga 8 jam pada tikus dengan hipertensi [38].

Uji klinis yang dilakukan pada 26 orang dengan diabetes menunjukkan bahwa Reishi membantu mengurangi kolesterol darah dan resistensi insulin. Sayangnya, percobaan serupa terhadap 84 orang tidak menemukan hasil yang sama dalam mengurangi faktor risiko kardiovaskular pada penderita diabetes [39, 40].

Berapa dosis jamur Reishi yang sebaiknya dikonsumsi untuk mencegah infeksi?

Menurut Carlos Tello, PhD, seorang Molecular Biology yang dilansir dari Selfhacked, produsen suplemen telah menetapkan dosis tidak resmi berdasarkan trial and error.

Umumnya, direkomendasikan untuk mengonsumsi 1-2 kapsul ekstrak jamur Reishi per hari atau sesuai dengan anjuran pada label kemasannya.

Sementara itu, dari hasil berbagai uji klinisnya, dosis ekstrak jamur Reishi hingga 6 gram per hari dapat digunakan bergantung pada kondisi kesehatan Anda.

Kesimpulan

Reishi tampaknya telah menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk meningkatkan kesehatan Anda secara umum dengan cara mengurangi keparahan COVID-19. Meskipun hal ini berlandaskan pada penelitian-penelitian sebelumnya, diperlukan penelitian lebih lanjut yang memperkuat efek Reishi dalam membantu COVID-19.

Original featured image by rawpixel.com – www.freepik.com

Baca Juga:
Peradangan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengendalikannya
Beta-Glucan: Pengertian, Manfaat, dan Efek Samping
Mengapa Perlu Reishi untuk Meningkatkan Kekebalan Tubuh?

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email