Punya Alergi Dingin? Begini Cara Mengatasinya dengan Baik!

obat-tradisional-untuk-mengatasi-alergi-dingin
Alergi bisa muncul karena adanya alergen atau sesuatu yang dapat memicu reaksi hipersensitivitas, salah satunya alergi terhadap suhu dingin. Dalam istilah medisnya dikenal sebagai cold urticaria (CU). Alergi dingin juga dapat terjadi secara akut dan parah - yang disebut sebagai anafilaksis.

Umumnya, alergi dingin (cold urticaria) terjadi pada orang dewasa muda. Jika Anda mengalami hal ini, maka sebaiknya diskusikan dengan dokter terkait perawatan terbaiknya. Umumnya, perawatan yang diberikan termasuk upaya pencegahan, seperti minum obat antihistamin dan menghindari segala sesuatu yang bersuhu dingin.

Seperti apa gejala umum alergi dingin? Bagaimana pula cara mengatasinya? Simak jawaban lengkapnya dalam artikel berikut ini!

Tanda dan gejala

Alergi dingin dengan gejala ringan hingga sedang biasanya tidak mengancam keselamatan jiwa, tetapi dapat menjadi kondisi yang serius, karena gejalanya meliputi:

  • Gatal-gatal dan menimbulkan bekas berwarna merah ketika berada di tempat dingin.
  • Sensasi seperti terbakar pada kulit saat tubuh Anda menghangat.
  • Ada bengkak di bagian kulit yang terpapar suhu dingin.
  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri sendi.
  • Kelelahan.
  • Gelisah.

Adapun gejala parahnya yang memerlukan perawatan medis sesegera mungkin, meliputi:

  • Kondisi anafilaksis, yaitu reaksi alergi akut yang parah.
  • Masalah pernapasan, seperti mengi.
  • Pembengkakan di lidah dan tenggorokan.
  • Tekanan darah rendah.
  • Jantung berdebar.
  • Pingsan.
  • Syok.

Reaksi alergi dingin bisa berbeda-beda pada setiap orang yang mengalaminya. Bisa saja, gejala muncul dalam waktu 5 – 10 menit setelah terpapar suhu dingin dan bisa hilang dalam waktu 1 – 2 jam.

Di lain sisi, reaksi alergi bisa muncul lama setelah terpapar dingin, bisa dalam beberapa jam atau hari. Waktu yang dibutuhkan untuk gejala hilang pun bisa mencapai 2 hari.

Kondisi lainnya dengan gejala serupa

Terkadang, gejala cold urticaria (CU) mirip dengan kondisi lainnya, sehingga diagnosis yang tepat sangat diperlukan. Beberapa kondisi tersebut adalah:

  • Chilblains: kondisi vaskular yang menyebabkan pembuluh darah meradang saat terpapar udara dingin. Gejalanya meliputi kulit merah, gatal, dan pembengkakan.
  • Penyakit Raynaud: penyempitan pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah terganggu ke ekstremitasnya, terutama jari tangan dan kaki. Gejalanya berupa nyeri dan pucat atau kebiruan pada kulit yang terpapar suhu dingin, serta bisa berlangsung beberapa menit atau jam.
  • Penyakit agglutinin dingin: sel imun tubuh menyerang sel darah merahnya sendiri sebagai respons terhadap suhu darah yang turun ke suhu yang lebih rendah dari suhu tubuh biasanya. Kondisi ini bisa mengakibatkan anemia hemolitik dan sering dikaitkan dengan penyakit infeksi, demam berdarah, dan beberapa jenis kanker tertentu.
  • Hemoglobinuria dingin paroksismal: antibodi di dalam tubuh menyerang dan membunuh sel darah merah yang sehat (kondisi autoimun). Gejalanya bisa berupa urin berwarna coklat tua, demam, sakit perut, kelelahan, pucat, dan kesulitan bernapas saat beraktivitas.

Penyebab alergi dingin

Photo by drobotdean – www.freepik.com

Reaksi alergi dingin dapat dipicu karena berbagai alasan, termasuk:

  • Pergi keluar dalam cuaca dingin.
  • Berenang atau mandi di air dingin.
  • Berada di ruangan dengan suhu dingin, seperti ruangan ber-AC atau walk-in freezer.
  • Umumnya, gejala dapat muncul ketika Anda berada di suhu yang kurang dari 39 °F (4 °C).

Jika Anda menderita cold urticaria, paparan suhu dingin akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh melepaskan senyawa kimia yang disebut histamin. Pelepasan histamin inilah yang menimbulkan reaksi atau gejala alergi.

Faktor risiko

Cold urticaria (CU) paling sering terjadi pada pria dan wanita saat dewasa muda. Sekitar setengah dari orang yang mengalami ini bisa membaik seiring berjalannya waktu, bahkan tidak mengalaminya lagi setelah beberapa tahun.

Melansir dari Healthline, alergi dingin dapat terjadi karena faktor keturunan. Namun, juga bisa terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat keluarga. Seringnya, gejala muncul tanpa pemicu mendasar yang jelas selain dari paparan dingin. Ada kemungkinan juga gejala alergi dingin dapat dipicu oleh penyakit tertentu, seperti:

  • Autoimun.
  • Mononukleosis.
  • Cacar air.
  • Hepatitis.
  • Kelainan darah.

Perawatan alergi dingin

Perawatan alergi umumnya berfokus pada pengurangan atau pengelolaan gejala. Jika Anda mengidap alergi, segera mencari pertolongan medis. Dokter biasanya akan memberikan pengobatan berdasarkan pada tingkat keparahan kondisi Anda.

Umumnya, obat alergi dingin sama dengan alergi pada umumnya, seperti antihistamin, yang dapat mencegah atau meminimalisir pelepasan senyawa histamin saat terpapar suhu dingin.

Namun, ada pula kasus di mana seseorang mungkin tidak merespons terhadap antihistamin, sehingga dokter memberikan obat lain untuk mengobati alergi dingin, seperti antibiotik, kortikosteroid, atau imunosupresan lainnya.

Jika Anda sudah mengalami gejala yang parah, seperti anafilaksis, Anda mungkin perlu mendapatkan epinefrin suntik sesuai dengan arahan dokter.

Ragam obat tradisional alergi dingin

Berikut ini beberapa obat tradisional yang umumnya digunakan untuk mencegah dan mengelola gejala alergi, yaitu:

  1. Bromelain: enzim yang ada pada pepaya dan nanas yang efektif mengurangi gejala pembengkakan.
  2. Akupunktur: efektif mengatasi gejala rhinitis alergi musiman.
  3. Probiotik: dapat membantu memperbaiki gejala rhinitis alergi.
  4. Madu: makan madu lokal dianggap dapat mengurangi reaksi alergi Anda seiring waktu. Hanya saja, masih diperlukan bukti secara ilmiahnya.
  5. Spirulina: memberikan efek perlindungan anti-alergi terhadap rhinitis alergi.
  6. Jelatang: berperan sebagai antihistamin alami untuk membantu pengobatan alergi.
  7. Quercetin: dapat menstabilkan pelepasan senyawa kimia histamin dan membantu mengontrol gejala alergi. Contoh makanannya seperti brokoli, kembang kol, teh hijau, dan buah jeruk.
  8. Vitamin C: mengonsumsi 2.000 miligram vitamin C setiap hari untuk mengurangi kadar histamin.
  9. Peppermint essential oil: terbukti secara klinis memiliki efek anti-inflamasi yang cukup untuk mengurangi gejala asma bronkia, kolitis, dan rhinitis alergi.
  10. Eucalyptus essential oil: sebagai agen antimikroba dengan menambahkannya ke setiap cucian selama musim-musim alergi.
  11. Frankincense essential oil: membantu melawan rhinitis alergi.
  12. Ekstrak jamur Reishi (Lingzhi): efektif memulihkan keseimbangan sel TH1 dan TH2 pada pasien dengan imun yang dimediasi histamin. Selain itu, jamur obat ini mengandung asam ganoderic dan triterpenoid cyclo-octasulfur yang dapat menghambat pelepasan senyawa histamin. Alhasil, dapat membantu meringankan gejala dan respons alergi.

Perlu dicatat dalam mengunakan minyak esensial, Anda perlu mengencerkannya terlebih dahulu dengan minyak pembawa (carrier oil) sebelum digunakan secara topikal.

Contoh minyak pembawa seperti minyak almond, jojoba, zaitun, bunga matahari, urang aring, atau virgin coconut oil (VCO).

Tips mencegah alergi dingin

Cara terbaik untuk mencegah alergi dingin atau kemungkinan reaksi alergi terhadap suhu dingin adalah menghindari paparan suhu dingin, dengan:

  • Memakai pakaian pelindung selama musim dingin, seperti jaket hangat, topi, sarung tangan, dan syal.
  • Cek suhu air sebelum mandi, berendam, atau berenang dan hindari air yang sangat dingin. Cari kolam yang ada pemanasnya.
  • Mandi dengan air hangat.
  • Minum minuman dengan suhu ruang dan tidak ber-es.
  • Hindari makanan dingin, seperti es krim dan makanan beku lainnya.
  • Minum obat sesuai dengan anjuran dokter.

Perlu dicatat juga bahwa Anda tidak disarankan menggunakan pengobatan rumahan apabila reaksi alergi dingin sudah parah atau anafilaksis, karena kondisi ini berisiko mengancam jiwa.

Sebaiknya, tetap diskusikan dengan dokter atau ahli kesehatan Anda sebelum menggunakan obat tradisional alergi apapun untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Photo by pressfoto – www.freepik.com

Baca Juga:
Macam-Macam Obat Alergi Udang, Apakah Jamur Reishi Juga Efektif?
Keampuhan Jamur Reishi dalam Mengobati Alergi Kulit Secara Alami

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email