Makan Jamur Bisa Melindungi Kesehatan Otak? Ini Faktanya!

manfaat-jamur-untuk-kesehatan-otak-menurut-para-ahli-review-reishi
Mengonsumi jamur, bahkan dalam porsi kecil, dapat menurunkan risiko gangguan kognitif ringan. Bagaimana pendapat para ahli terkait hal ini?

Jamur adalah salah satu bahan makanan yang sangat disukai oleh sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Bahan pangan ini menyediakan banyak zat gizi penting, terutama komponen aktifnya yang sangat bermanfaat untuk tubuh.

Oleh sebab itu, para peneliti pun berupaya untuk menemukan apakah jamur juga dapat melindungi kesehatan otak, terutama dari penurunan kognitif.

Berbicara soal jamur memang sangat menarik. Meskipun beberapa dapat dimakan dan sering kali dikategorikan sebagai sayuran, jamur sebenarnya bukanlah sayuran.

Jamur adalah jamur, memiliki kerajaannya sendiri, di samping tumbuhan dan hewan dalam klasifikasi biologis.

Jamur yang dapat dimakan, baik itu spesies yang dibudidayakan maupun tumbuh secara liar, mengandung banyak serat makanan (terutama beta-glucan), antioksidan, protein, vitamin, mineral, dan komponen aktif lainnya.

Para ahli ungkap fakta manfaat jamur untuk kesehatan otak

Penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang menambahkan kelompok jamur ke dalam makanannya – bahkan hanya dalam porsi kecil – memiliki risiko yang lebih rendah terhadap gangguan kognitif ringan (MCI). Gangguan ini sering kali menjadi awal dari seseorang mengidap Alzheimer [1].

Orang yang mengalami MCI mungkin juga mengalami beberapa gejala khas penyakit Alzheimer, misalnya kemampuan mengingat, bahasa, dan orientasi spasialnya menurun. Hanya saja, penderitanya masih dapat menjalani kehidupannya seperti biasa.

Hasil temuan yang diterbitkan dalam Journal of Alzheimer’s Disease ini berhasil membuktikan bahwa jamur yang umum digunakan dalam masakan Singapura dapat menurunkan risiko gangguan kognitif ringan atau mild cognitive impairment (MCI).

Desain penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh Lei et al. (2019) ini berlangsung selama 6 tahun (2011-2017) dengan melibatkan 663 peserta berusia 60 tahun ke atas yang direkrut melalui proyek Diet and Healthy Aging.

Tim memfokuskan perhatiannya pada beberapa jamur yang umum dikonsumsi di Singapura, yaitu jamur emas, tiram, Shitake, kancing putih, kering, dan kancing kalengan. Sementara itu, jumlah yang dikonsumsi sebanyak 3/4 cangkir per porsi, dengan berat rata-rata sekitar 150 gram.

Untuk mengukur hubungan antara makan jamur dengan risiko MCI, para peneliti juga mengukur kemampuan kognitif peserta. Menurut tim, orang dengan MCI masih dapat melakukan aktivitas normal sehari-hari mereka.

Maka dari itu, yang harus ditentukan dalam penelitian ini adalah apakah peserta memiliki kinerja yang lebih buruk daripada orang lain dengan usia dan latar belakang pendidikan yang sama menggunakan tes neuropsikologi standar. Ini adalah tes yang dirancang khusus untuk mengukur berbagai aspek kemampuan kognitif seseorang.

Sesi wawancara terarah dilakukan untuk memperhitungkan informasi demografis, riwayat medis, faktor psikologis, dan kebiasaan diet. Tim juga meminta para peserta untuk menjalani serangkaian tes yang mengukur aspek fungsi fisik dan psikologisnya.

Selama penelitian, seorang perawat juga terlibat untuk mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan, genggaman tangan, dan kecepatan berjalan. Selain itu, peserta juga melakukan tes sederhana terhadap kemampuan kognisi, serta tingkat kecemasan dan depresi.

Jamur dan ‘efek dramatisnya’ pada penurunan kognitif

Para peneliti menganalisis bahwa makan lebih dari dua porsi jamur yang dimasak setiap minggu dapat menurunkan risiko MCI hingga 50%.

Ada satu senyawa – ergothioneine (ET) – yang membuat tim sangat tertarik. Senyawa ini memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi unik yang tidak dapat disintesis oleh tubuh manusia, tetapi bisa diperoleh dari makanan. Salah satu yang utamanya adalah jamur.

Gagasan bahwa ET mungkin memiliki efek langsung pada risiko penurunan kognitif berasal dari penelitian sebelumnya yang diterbitkan dalam jurnal Biochemical and Biophysical Research Communications [2]. Penelitian ini menemukan bahwa orang dengan MCI memiliki kadar senyawa dalam darah yang lebih rendah daripada orang sehat pada usia yang sama.

Selain itu, jamur mengandung banyak zat lain yang peran pastinya untuk kesehatan otak masih belum jelas. Ini termasuk hericenones, erinacines, scabronines, dan dictyophorines – serangkaian senyawa yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan neuron (sel otak).

Manfaat jamur untuk kesehatan otak juga berasal dari zat yang diduga dapat menghambat produksi beta-amiloid dan tau terfosforilasi. Ini adalah dua protein beracun yang dapat terakumulasi secara berlebihan di otak bersamaan dengan perkembangan Alzheimer dan bentuk demensia lainnya.

Lalu, bagaimana dengan Reishi?

Meskipun Reishi bukanlah yang umum dikonsumsi oleh warga Singapura, tetapi studi menemukan bahwa jamur ini berpotensi nootropik dan mampu meningkatkan fungsi memori [3].

Kemampuan Reishi tersebut diduga berasal dari kandungan polisakarida di dalamnya. Polisakarida dapat mendorong proliferasi sel saraf progenitor (NPC), sehingga meningkatkan neurogenesis dan mengurangi penurunan kognitif [4].

Studi lainnya juga mendapati bahwa polisakarida dalam Reishi dapat mencegah kematian sel-sel tubuh akibat stres oksidatif. Oleh sebab itu, Reishi memiliki kemampuan sebagai neuroprotektif atau pelindung saraf [5].

Bagaimana, tertarik untuk makan jamur?

Original featured image by azerbaijan_stockers – www.freepik.com

Baca Juga:
Mengulik Manfaat Reishi untuk Kesehatan Otak dan Saraf
Kenali 10 Tanda Penyakit Jantung, Batuk Terus-Menerus Salah Satunya!

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email