Ketahui, Cara Kerja Jamur Reishi (Lingzhi) untuk Menunjang Pengobatan Hipertensi!

peran-red-reishi-dalam-pengobatan-hipertensi
Berbagai pengobatan hipertensi ditujukan untuk mengontrol tekanan darah, termasuk dengan herbal alami, salah satunya jamur Reishi (Lingzhi).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi medis serius yang secara signifikan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, ginjal, stroke, bahkan kematian. WHO (2019) juga telah menyatakan bahwa hipertensi adalah penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Setidaknya, ada sekitar 1,13 miliar orang di seluruh dunia yang menderita hipertensi dan sebagian besar bertempat tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Berbagai pengobatan hipertensi ditujukan untuk mengontrol tekanan darah, termasuk dengan herbal alami, salah satunya jamur Reishi atau Lingzhi. Melalui artikel ini, Anda akan melihat sejauh mana jamur Reishi dapat digunakan sebagai pengobatan hipertensi secara alami.

Mari, kenal lebih jauh dengan hipertensi!

Kapan tekanan darah seseorang dikatakan tinggi (hipertensi)?

Saat tekanan darah Anda diukur, akan dicatat dalam bentuk 2 angka, yaitu angka yang lebih tinggi adalah (tekanan sistolik) dan angka yang lebih rendah (tekanan diastolik). Tekanan sistolik adalah kekuatan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan tekanan diastolik adalah hambatan aliran darah di pembuluh darah. Alat untuk mengukur tekanan darah disebut juga dengan tensimeter dengan satuan milimeter merkuri (mmHg).

Melansir dari NHS, tekanan darah seseorang dikatakan normal apabila berada dalam range 90/60 – 120/80 mmHg. Jika ternyata hasilnya berada di angka 140/90 mmHg atau lebih, maka Anda berisiko tinggi mengalami hipertensi, terutama jika tidak melakukan langkah-langkah mengendalikan tekanan darah. Namun, perlu diingat bahwa tekanan darah setiap orang bisa saja sedikit berbeda, misalnya apa yang dianggap rendah atau tinggi bagi Anda mungkin saja itu normal bagi orang lain.

Kategori hipertensi lebih lengkap menurut American College of Cardiology adalah sebagai berikut:

  • Normal: <120/80 mmHg,
  • Peningkatan: tekanan sistolik di antara 120-129 mmHg dan diastolik <80 mmHg,
  • Stadium 1: tekanan sistolik di antara 130-139 mmHg dan diastolik di antara 80-89 mmHg,
  • Stadium 2: tekanan sistolik minimal 140 mmHg atau diastolik minimal 90 mmHg,
  • Krisis hipertensi: tekanan sistolik >180 mmHg dan atau diastolik >120 mmHg. Kondisi ini harus segera ditangani oleh tim medis.

Bagaimana seseorang bisa mengalami hipertensi?

Sampai saat ini, penyebab hipertensi atau tekanan darah tinggi tidak diketahui dengan jelas. Bagi kebanyakan orang dewasa, penyebab hipertensi tidak dapat diidentifikasi. Jenis tekanan darah tinggi ini disebut juga dengan hipertensi primer (esensial), yang cenderung berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun. Meskipun tidak diketahui dengan jelas penyebabnya, diduga beberapa faktor pemicu ikut berperan, yaitu:

  • Ras dan faktor usia.
  • Keturunan/genetik.
  • Kebiasaan merokok.
  • Status gizi yang overweight/obesitas.
  • Jarang berolahraga.
  • Kebiasaan minum minuman beralkohol (lebih dari 1 – 2 minuman per hari).
  • Terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi garam, termasuk junk food dan makanan yang diawetkan, seperti makanan kaleng.
  • Tidak mampu mengelola stres.

Di sisi lain, ada pula jenis hipertensi sekunder, di mana penyebab hipertensinya mungkin dapat diidentifikasi. Hipertensi seperti ini cenderung muncul secara tiba-tiba, bahkan berisiko tekanan darah lebih tinggi daripada hipertensi primer. Berbagai kondisi dan pengobatan dapat menyebabkan hipertensi sekunder, termasuk:

  • Mengidap penyakit ginjal kronis.
  • Gangguan kelenjar adrenal dan tiroid.
  • Apnea tidur (gangguan bernapas saat tidur).
  • Cacat tertentu sejak lahir (bawaan) di bagian pembuluh darah.
  • Obat-obatan tertentu, seperti oabt flu, pil KB, dekongestan, pereda nyeri yang dijual bebas dan beberapa obat resep.
  • Obat-obatan terlarang, seperti amfetamin dan kokain.

Siapa yang lebih berisiko mengalami hipertensi?

Seseorang lebih berisiko mengalami hipertensi apabila berada dalam kondisi seperti:

  • Usia lebih dari 60 tahun.
  • Beberapa kelompok etnis lebih rentan terhadap hipertensi daripada yang lain, seperti orang Afrika-Amerika.
  • Kegemukan (overweight) atau obesitas.
  • Kebiasaan mengkonsumsi alkohol atau merokok.
  • Pria memiliki risiko yang lebih tinggi terserang hipertensi daripada wanita, kecuali wanita menopause.
  • Riwayat kesehatan, seperti diabetes, penyakit ginjal kronis, dan kadar kolesterol tinggi.
  • Sedentary lifestyle (gaya hidup menetap).
  • Pola diet tinggi gula, garam, dan lemak, serta rendah kalium.
  • Stres yang tidak dikelola dengan baik.
  • Riwayat keluarga dengan tekanan darah tinggi.

Waspada dengan gejala hipertensi ini!

Dilansir dari laman resmi WHO, banyak orang yang mengalami hipertensi tetapi tidak menyadarinya, karena mungkin tidak ada tanda-tanda peringatan sebelumnya. Inilah mengapa hipertensi disebut juga sebagai “silent killer”. Oleh sebab itu, penting bagi Anda mengukur tekanan darah secara berkala, terutama jika Anda berisiko mengalaminya.

Umumnya, gejala hipertensi yang muncul dapat berupa:

  • Sakit kepala di pagi hari.
  • Mimisan.
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Perubahan penglihatan.
  • Telinga berdengung.
  • Dalam kasus hipertensi yang lebih berat, dapat menyebabkan mual, muntah, kelelahan, kecemasan, kebingungan, nyeri dada, dan tremor otot.

Sejauh ini, satu-satunya cara untuk mendeteksi hipertensi adalah mengukur tekanan darah. Anda bisa meminta bantuan tenaga kesehatan atau melakukannya sendiri menggunakan tensimeter. Namun, akan lebih baik jika hasilnya dievaluasi oleh profesional kesehatan untuk menilai risiko dan kondisi tubuh Anda.

Komplikasi hipertensi yang tidak terkontrol

Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah, serta organ-organ di tubuh Anda. Semakin tinggi tekanan darah dan semakin lama ini tidak terkontrol, maka semakin besar kerusakan yang ditimbulkannya. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi, termasuk:

  • Stroke, serangan jantung, dan penyakit terkait lainnya, karena terjadi pengerasan dan penebalan pada pembuluh darah arteri (aterosklerosis) akibat hipertensi.
  • Pembuluh darah melemah dan menyempit, sehingga mengganggu fungsi kerja organ, seperti di ginjal dan mata (dapat menyebabkan kebutaan).
  • Sindrom metabolik, yaitu sekumpulan gangguan metabolisme tubuh yang sangat mungkin berkembang menjadi diabetes, penyakit jantung, dan stroke.
  • Gangguan fungsi memori, termasuk berpikir, mengingat, dan belajar.
  • Demensia vaskular, karena arteri yang menyempit atau tersumbat, sehingga membatasi aliran darah ke otak.

Yuk, lakukan pengobatan hipertensi!

Pengobatan hipertensi berfokus pada manajemen hipertensi, agar terkontrol dengan baik dan tidak menyebabkan komplikasi lebih serius. Ini meliputi olahraga, mengelola stres, obat-obatan, dan pengaturan pola makan.

1. Olahraga.

Anda direkomendasikan untuk melakukan olahraga minimal 150 menit dengan intensitas sedang setiap minggu, atau 75 menit dalam seminggu dengan intensitas tinggi. Setidaknya, lakukanlah olahraga 5 hari dalam seminggu untuk mengontrol tekanan darah tetap stabil, termasuk jalan kaki, jogging, berenang, dan bersepeda.

2. Mengelola stres.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, stres dapat memicu tekanan darah jadi naik. Oleh sebab itu, mengelola stres dapat membantu Anda mengontrol tekanan darah. Beberapa cara untuk meredakan stres yang bisa Anda lakukan, di antaranya yoga, meditasi, berendam dengan air hangat, dan sekadar jalan santai. Selain itu, jauhilah alkohol dan merokok untuk mengurangi risiko hipertensi dan komplikasinya.

3. Obat-obatan.

Terkadang, dokter Anda akan meresepkan obat khusus dosis rendah untuk mengobati hipertensi, seperti obat antihipertensi, obat diuretik, dan vasodilator. Obat-obatan diresepkan berdasarkan kondisi medis mendasar yang Anda alami.

4. Diet.

Pengaturan pola makan juga penting dilakukan untuk memanajemen hipertensi. Anda dapat mencegah tekanan darah tinggi dengan mengikuti diet jantung sehat, yaitu:

  • Mengurangi asupan garam: rekomenasi WHO di bawah 5 g sehari.
  • Konsumsi alkohol moderat: rekomenadi AHA maksimal dua minuman beralkohol sehari untuk pria, dan satu minuman saja untuk wanita. Minta bantuan dokter untuk membantu Anda mengatur asupan alkohol sehari-hari.
  • Makan lebih banyak buah dan sayuran, serta lebih sedikit lemak.
  • Mengelola berat badan
  • Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension), yaitu pola makan yang fleksibel dan seimbang untuk menurunkan tekanan darah.

Pengobatan hipertensi secara alami dengan jamur Reishi (Lingzhi)

Di antara ribuan tanaman herbal yang tersedia dari alam, Reishi mushroom adalah salah satu pengobatan hipertensi secara alami. Jamur ini memang sudah dikenal sejak beribu-ribu tahun yang lalu sebagai tanaman obat tradisional. Di Cina, jamur obat ini dikenal sebagai Lingzhi, sedangkan di Jepang, dikenal sebagai Reishi. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mengonsumsi Reishi (Lingzhi), termasuk meningkatkan sistem imun, kualitas tidur, mengurangi stres dan kelelahan, serta menurunkan tekanan darah.

Melansir dari MedScape, satu dari sekian banyak pengobatan hipertensi secara alami adalah jamur Reishi (Lingzhi). Selain itu, laman resmi WebMD yang membahas tentang jamur Reishi menyatakan bahwa banyak orang mengonsumsi jamur Reishi juga untuk menurunkan tekanan darah. Namun, jamur Reishi dapat berinteraksi dengan obat tekanan darah tinggi. Jadi, diskusikanlah kemungkinan interaksi jika Anda mengonsumsi herbal Reishi ataupun yang lainnya yang dapat mencegah pembekuan darah normal atau menurunkan tekanan darah.

jamur-lingzhi-efektif-mengelola-hipertensi
Dilansir dari WebMD, jamur Reishi dipercaya dapat menurunkan tekanan darah.

Peran jamur Reishi (Lingzhi) sebagai terapi penunjang dalam pengobatan hipertensi

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Zasshi (1985) menunjukkan bahwa G. lucidum memiliki efek penurunan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi esensial. Studi klinis yang dilakukan pada manusia ini juga menunjukkan bahwa mengonsumi G. lucidum tidak akan memiliki efek samping pada pasien hipertensi esensial dan hipertensi ringan atau normotensi selama enam bulan secara oral.

Sekelompok peneliti dari Jepang pada tahun 2014 meneliti tentang efek jamur Reishi sebagai antihipertensi. Hasilnya menunjukkan bahwa dari sebelas peptida yang diidentifikasi, empat di antaranya menunjukkan efek ACE inhibitor (angiotensin-converting enzyme inhibitor atau penghambat enzim pengubah angiotensin). Dengan adanya efek ini, otot-otot dinding pembuluh darah menjadi lebih rileks, sehingga tekanan darah menurun. Hal ini membutkikan bahwa ekstrak jamur Reishi dapat dijadikan sebagai sumber peptida hipotensi yang baik untuk pengobatan antihipertensi atau sebagai makanan fungsional.

Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Sargowo et al. (2016) menunjukkan bahwa pemberian jamur Reishi (Ganoderma lucidum) selama tiga bulan pada penderita hipertensi risiko tinggi dapat menurunkan tekanan darah hingga mencapai batas normal dan memperbaiki kadar kolesterol total. Hal ini diduga berkaitan dengan kandungan senyawa polisakarida peptida (PSP) di dalamnya yang berperan sebagai antiinflamasi dan antioksidan pada penyakit kardiovaskuler.

Melihat banyaknya penelitian yang membuktikan khasiat Reishi (Lingzhi) dalam membantu menurunkan tekanan darah, jamur Reishi dapat dikonsumsi sebagai terapi pendamping atau penunjang pengobatan hipertensi Anda saat ini. Namun ingat, Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya, terutama jika Anda sedang mengonsumsi obat resep. Hal ini untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan terjadi di kemudian hari.

Baca Juga:

Seberapa Efektif Pengobatan Diabetes dengan Red Reishi (Jamur Lingzhi)?

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email